Nasehat Seorang Kakek
Terik matahari siang ini memang begitu panas, kulihat jam
menunjukkan tepat diangka satu. Tenggorokanku terasa begitu kering aku merasa
sangat haus apalagi perutku ini sudah mulai keroncongan mungkin gara-gara tadi
pagi aku belum sempat sarapan karena terburu-buru berangkat sekolah. Maklumlah
jarak antara rumah dan sekolahku sangatlah jauh dan itupun aku harus jalan kaki
terlebih dahulu baru kemudian bisa naik
angkot. Aku sedang menunggu angkot sendirian, ya seperti biasa tiada kawan yang
menemani, semua teman-temanku pada bawa motor seniri-sendiri dan itupun arah
rumah kita berbeda kalau toh memang sama pasti aku juga akan diajak ikut pulang
bareng. Rasanya aku sudah ngga kuat lagi tenggorokanku begitu sakit, aku butuh
minum kemudian ku lihat saku bajuku ternyata cuma ada uang seribu dan itu hanya
cukup untuk bayar angkot padahal aku butuh uang untuk beli minuman. Lalu kemudian
aku coba mengecek saku celanaku mungkin saja ada sisa uang jajan kemaren,
setelah aku merogoh sakuku seperti ada selembar uang kertas didalam saku, aku
mulai merasa senang ternyata eh ternyata itu bukan uang melainkan kertas
contekanku tadi pagi saat ulangan matematika dan sebuah bungkus permen sisa
jajan kemaren. “Aduh.... payah,”
teriakku spontan. “Gimana bisa
minum kalau begini.” kataku dalam hati.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang kakek tua
pakaiannya terlihat agak kumal sepertinya seorang pengemis atau mungkin
pemulung, dia berjalan menuju kearahku. “Aduh bagaimana nih malah ada pengemis
datang aku kan ngga punya uang, kalau uang ini aku sedekahin bagaimana aku bisa
pulang, eh tunggu jangan berprasangka begitu mungkin orang itu bukan pengemis
hanya saja penampilannya seperti itu kalau aku berprasangka begini ini namaya
aku menghina orang lain,” kataku dalam
hati. Setelah kakek itu datang
menghampiriku dia langsung duduk disampingku akupun terheran mengapa si kakek
malah duduk disini apa dia mau nunggu angkot juga pikirku. “Ada apa nak?” tanya
si kakek sambil tersenyum padaku. “Oh
tngga apa-apa kek.” jawabku sedikit acuh. “Tetapi kakek lihat kamu tadi seperti
sedang memikirkan sesuatu, memang ada apa nak?” tanya si kakek lagi dengan
ramah. “Ngga ada apa-apa,” jawabku dengan nada sediikit kesal. “Astagfirullah......,” ucap si kakek pelan.
Kemudian aku merasa sedikit bersalah padahal si kakek bertanya baik-baik padaku
tetapi aku malah menyentaknya. “Maaf kek aku ngga bermaksud untuk menyentak
kakek,” kataku sambil melihat si kakek.
“ Oh tak apa nak, memang ada apa denganmu nak?”
kata si kakek dengan sangat ramah.
“Begini kek aku sangat haus tetapi aku tidak punya uang untuk membeli
minum uangku hanya tersisa seribu itupun hanya cukup untuk bayar angkot.”jawabku
pelan. “Oh begitu nak, kalau kamu mau kakek punya sebotol air mineral, ini
untuk kamu saja,” ucap si kakek sambil menyodorkannya padaku. “Ah.. tak usah lah kek, nanti kalau
kakek haus bagaimana?” kataku kepada kakek.
“Tapi sepertinya kamu sangat membutuhkannya, kakek sih tak masalah\,”
ucap si kakek sambil tersenyum kecil. “Ah..tak usah saja lah kek aku memang
haus tapi aku ngga mau merepotkan orang lain, sudahlah tak usah repot-repot,”
kataku dengan nada sedikit jengkel.
Setelah aku berkata seperti itu pada si kakek timbul rasa
bersalah lagi mengapa aku harus jengkel padanya, kemudian si kakek berusaha
untuk mengajakku bicara. “Begini nak ini bukan masalah tentang siapa yang
direpot kan atau siapa yang merepotkan, tetapi kalu kita sedang butuh bantuan
dari orang lain dan ada orang lain yang
ingin membantu kita janganlah menolak bantuan itu, memang kita mengira bantuan
itu berasal dari orang lain tetapi sebenarnya itu bantuan dari Allah untuk
kita,” jelas si kakek padaku.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran. “Ya bantuan dari Allah, mungkin saja kalau
Allah tidak menakdirkan kita bertemu akupun juga tak akan memberimu minuman
ini,” jelas si kakek lagi. “Oh...,”
kataku pelan sambil mengangguk. “Sebentar nak,” kata si kakek lagi. “Ada
apa lagi kek?” tanya ku. “Sudah minumlah itu dulu, begini tadi kamu juga bicara
tidak mau merepotkan orang lain bukan? Padahal tanpa kita sadari kita sudah
merepotkan orang lain dalam arti kita juga butuh bantuan dari orang lain
contohnya kamu makan nasi, padahal nasi tak akan ada kalu tak ada beras dan
beras tak akan ada kalau tidak ada petani yang menanamnya, jadi intinya kita
selalu butuh bnatuan orang lain bukan?” jelas si kakek sambil melihatku minum.
Akupun hanya bisa mengangguk mendengar
penjelasan si kakek.
Aku yang merasa sangat ingin tahu mencoba meminta
penjelasan pada si kakek lagi. “Lalu mengapa kakek malah memberikan minuman ini
padaku, padahal kakek nanti juga akan membutuhkannya ketika kakek merasa haus,
aku tak mengerti apa artinya ini, “ kataku meminta penjelasan. “Karena sebagai
manusia kita harus saling tolong
menolong walaupun kalau kita menolong ada reiko yang akan kita dapat, tetapi
yakinlah kalau Allah juga akan memberikan pahala untuk orang orang yang berbuat
baik,” jelas si kakek padaku. “Oh begitu
ya kek? kataku. “Ya iyalah, hahaha.......,” ucap si kakek sambil tertawa. “Seharusnya kamu harus selalu bersyukur atas
nikmat yang diberikan Allah padamu, kita jangan pernah mengeluh dengan semua
yang diberikan Allah sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,”
jelas si kakek lagi. “Eh iya kek kenapa kakek disini?”tanyaku. “Oh kakek kan
kuli pasar yang ada di seberang jalan ini nak, kebetulan saja ketika kakek
sedang istirahat untuk makan siang melihat kamu yang sepertinya sedang
kebingungan, “ kata kakek. “Aduh maaf ya kek aku kira tadi kakek itu pengemis
yang mau minta sedekah,” kataku pada si kakek. “Oh tak apa lah nak kakek juga
memahaminya mungkin karena penampilan kakek yang seperti ini, maklumlah kakek
hanya sebatangkara istri kakek sudah meninggal dan kakek tak punya anak jadi
semua serba seadanya yang penting kakek tetap berusaha untuk mempertahankan
hidup dengan bekerja semampu kakek yang penting bisa makan tanpa meminta minta
kepada orang lain, kalu toh memang di kasih tak masalah tetapi kalu harus
mengemis kakek tak mau walaupun kakek sudah tua kalau memang kakek masih mampu
bekerja kakek akan bekerja,” jelas si
kakek padaku.
Setelah mendengar
semua penjelasan kakek aku sudah mulai sedikit memahaminya dan timbul rasa
semangat dari dalam hati. “Setuju kek, kalau aku sudah dewasa nanti dan aku
sudah bekerja aku akan bekerja sungguh-sungguh dan akan selalu bersyukur atas
semua yang didapat dan yang paling penting aku tak boleh mengeluh, mulai
sekarang aku ingin jadi anak baik dan selalu menuruti nasehat orang tua,”
kataku. “Baguuussss.......,” ucap si kakek sambil tersenyum lebar. “Ini kek
terima kasih atas minumannya aku cuma butuh sedikit untuk mengobati rasa hausku
ini sisanya masih banyak mungkin kakek bisa meminumnya ketika merasa haus nanti,”
kakaku pada si kakek. “Kamu memang anak baik nak,” kata si kakek sambil
tersenyum kecil. “Ah..... kakek terlalu
berlebihan padaku meurutku kakek seorang yang hebat buatku, terima kasih atas
nasehat dan pelajaran yang bisa aku petik hikmahnya untuk hari ini,” kataku
pada kakek. Tak lama kemudian angkot yang menuju rumahku datang aku segera
naik, dari dalam angkot aku melihat si kakek sambil melambaikan tangan dekat
kaca kakek hanya tersenyum kecil padaku. Setelah satu hari berlalu seperti
biasanya ketika pulang sekolah aku menunggu angkot di tempat biasa aku berpikir
untuk menemui si kakek lagi dan mencarinya di pasar seberang jalan tetapi aku
tak menemukannya aku sudah mencoba untuk bertanya kepada orang orang pasar yang
biasa berjualan disitu tetapi tak satupun yang mengetahuinya bahkan
mengenalnya.



0 komentar:
Posting Komentar