cerpen



Cintaku Terselip didalam Dompet
            Bel istirahat sudah berbunyi segera semua siswa keluar dari kelas. Dan hanya tinggal aku seorang yang masih ada di dalam kelas, daripada aku duduk diam sendiri di dalam kelas aku memutuskan untuk pergi keperpustakaan.
  Setiba disana aku bingung untuk mebaca apa sampai beberapa menit kemudian aku temukan sebuah novel yang sudah terlihat agak usang . aku membaca judul novel itu, “Khayalan dan Imajinasi”, kataku pelan seraya membuka halaman demi halaman novel itu. Aku mulai membacanya dari halaman awal hingga sampai halaman ketiga, tiba–tiba aku dikejutkan oleh seseorang dari belakang.

 “Hayo”, kata seseorang yang mengagetkanku dari belakang. Setelah aku melihat kebelakang eh ternyata dia Tyas. Tyas adalah sahabat yang paling baik bukan hanya baik lagi tetapi sangatlah baik dia selalu ada buatku baik dalam suka maupun duka. Tyas juga gadis yang baik dan cantik dan bukan hanya itu dia seorang gadis yang pintar, dia selalu mendapat peringkat pertama dikelas dan bagiku dia sahabat yang perhatian, lemah lembut dan penyayang. Kalau diperhatikan dia selalu tampil rapi dengan rambutnya yang selalu ia ikat satu  kebelakang, wajahnya putih bersih serta tingginya semampai. “Eh lihat apa kamu?” Tanya Tyas padaku. “Oh . . . emm . . . gak lihat apa–apa,” jawabku. “Ah yang bener, aku tahu kamu sedang lihat apa pasti kak Rama kan,” Tanya Tyas penasaran. “Eee . . .enggak,’ jawabku gugup. “Heleh jujur saja deh,” tanya Tyas lagi. “Sudah – sudah aku nggak maksa kok, maaf ya tadi aku cuma bercanda,” kata Tyas menjelaskan padaku. “ Iya nggak apa – apa ,” kataku. Dalam hati aku berkata emang bener yas apa yang kamu maksud itu tapi maaf aku nggak bisa jujur sama kamu. Memang yang aku lihat itu adalah orang yang kamu maksud tadi, sudah lama aku memendam perasaan ini. “Ada apa yas menemuiku?” tanyaku padanya. “ Oh nggak apa – apa cuman pengen aja, ngomong ngomong kamu baca apa Rin?” tanya Tyas balik padaku. “Ooo… ini sedang baca novel,” jawabku. “Oh novel seru tuh kayaknya,” Tanya Tyas lagi. “ Iya nich memang bener – bener seru sampai – sampai aku hanyut dalam cerita di novel ini,”  jelasku pada Tyas.
            Tiba – tiba bel masuk berbunyi  aku segera mengembalikan novel itu ke rak. Sekilas aku lihat ke lapangan lagi tetapi ternyata orang itu sudah pergi. “Ayo Rin cepetan dong nanti keburu bu guru masuk kelas, malah kamu lihat apaan lagi sih,”  kata Tyas lagi. “iya – iya ini juga sudah cepet kok,”  jelasku pada Tyas.
            Sesampainya dikelas kami mulai duduk dan mengambil buku pelajaran bahasa Indonesia dari dalam kelas. “Hei . . . hei . . . jangan gaduh dong,’ bentak Andi si ketua kelas pada anak – anak yang sedang asyik ngobrol sendiri di dalam kelas “ iya – iya ini nggak gaduh kok,” gumam salah seorang anak yang ikut ngobrol tadi. “Eh bu guru sudah datang tuh,” seru salah seorang anak. Setelah bu guru masuk kedalam kelas, beliau segera memulai kegiatan pembelajaran. Satu jam sudah berlalu KBM sudah mulai berakhir, kenudian bu guru memberikan tugas untuk membuat cerpen, mendengar itu aku langsung berpikir aku harus ambil tema apa ya supaya aku bisa membuat cerpen itu. Setelah berpikir aku teringat tentang seseorang yang ada di lapangan tadi. Tiba-tiba aku refleks meneriakkan kata, “Aha . . . aku tahu” Tyas yang mendengar itu langsung tanya kepadaku. ‘Ada apa Rin, emang kamu tahu apa?” tanyanya padaku. “Oh nggak apa – apa,” jawabku singkat.
            Kemudian setelah itu barulah bel pulanhg sekolah sudah berbunyi, kami segera berkemas kemas kemudian berdoa. Setelah itu aku mulai berjalan pulang seperti biasanya dan menunggu angkot di tempat biasa. Saat aku duduk menunggu angkot, aku melihat orang yang aku lihat di lapangan tadi ia sedang naik motor. Sepertinya ia sedang buru – buru pulang. Saat melihatnya hatiku terasa nggak karuan entahlah ini perasaan apa tapi saat ini rasanya campur aduk sampai sampai aku mengeluarkan keringat dingin. Tiba – tiba perhatianku teralihkan pada sebuah dompet yang tergeletak di jalan, kemudian aku mengambilnya.
“Hemm . . . ini dompet siapa ya, sepertinya ini milik seorang perempuan warnanya merah tua dengan sebuah gantungan hati. Aku bingung harus berbuat apa kemudia aku buka saja dompet itu, ternyata di dalam dompet itu terdapat sebuah KTP, sebuah surat berharga yang kayaknya penting dan sejumlah uang lima ratus ribu rupiah. Setelah itu aku baca deh KTPnya, disitu tertuliskan nama Aisyah Ramadhan bertempat tinggal di desa Randu rt 01 /rw 02 kecamatan Pringsewu. ”Hemm . . . desa Randu ya sepertinya nggak jauh dari sini, besok aja deh sepulang sekolah aku akan kembalikan langsung pada orangnya,”kataku dalam hati
            Sesampainya dirumah aku langsung ganti baju, sholat kemudian  makan. Sore harinya aku belajar seperti biasa tiba tiba aku teringat pada dompet itu, tetapi aku tak berani untuk ceritakan pada orang tuaku. Bagaimana ya kalau aku ceritakan pada ayahku pasti dia akan langsung tuduh aku yang nggak nggak, tahu sendirikan ayahku orangnya galak dan keras lebih baik besok aja aku bener bener akan kembalikan dompet itu.
            Pagi sudah datang aku segera bangun dan mengerjakan sholat subuh, setelah itu mandi dan bersiap untuk pegi sekolah. Sampai disekolah  aku ceritakan semuanya tentang dompet itu pada Tyas, Tyas berpesan padaku kalau aku harus segera mengembalikannya nanti, katanya kasihan pasti orang yang kehilangan dompet itu saat ini sedang kebingungan mencarinya. Kemudian aku berpikir untuk mengajak Tyas untuk mengembalikan dompet itu pada pemiliknya sepulang sekolah nanti, akan tetapi sayangnya Tyas tidak bisa karena katanya dia ada acara keluarga dirumah pamanya. “Ya sudahah, aku kembalikan aja sendiri,” kataku dalam hati dengan perasaan sedikit ragu. “Setelah sepulang sekolah nanti aku akan langsung  mengembalikan dompet itu,” kataku lagi. Bel pulang sekolah sudah berbunyi kemudian aku buru buru menuju desa Randu, meski ragu tapi aku kuatkan niatku untuk mengembalikannya. Setelah naik angkot akhirnya sampailah ke tempat tujuan, aku mulai bertanya tanya pada warga setempat. “Bu apa ibu tahu dimana rumah ibu Aisyah?” tanyaku pada seorang ibu-ibu yang sedang duduk didepan warung. “Oh ibu Aisyah itu dek rumah cat warna biru muda,” jawab ibu itu sambil menunjukkan sebuah rumah yang terlihat nampak asri dengan taman di depannya.
Kemudian aku menuju ke rumah itu lalu aku ketuk pintunya, “Assalamualaikum,” aku mengucap salam. “Waalaikumsalam,” jawab seseorang yang ada di dalam rumah. Setelah seseorang membukakan pintu, aku langsung bertanya pada orang “Apa ini benar rumah ibu Aisyah?” “Ya dek ini benar, saya sendirilah ibu Aisyah,” jawab ibu itu. “ Oh maaf bu saya ingin menjelaskan tentang…”kataku lagi. “Masuk dulu dek tidak enak kan kalau bicara di luar,”  kata ibu itu sambil mempersilahkan aku masuk. “Oh terima kasih bu,” jawabku. Kemudian aku jelaskan semua tentang dompet itu dan untungnya dia sangat baik dan tidak menuduhku yang nggak nggak. “Jadi begitu dek,” kata Bu Aisyah lagi. “Iii.... .iya bu,” jawabkuagak gugup. “Kalau begitu silahkan makan dirumah ibu saja pasti kamu belum makan kan, mumpung ibu sedang buat rendang kesukaan anak ibu,” pinta bu Aisyah padaku. ”Jangan repot repot bu saya langsung pulang saja, maaf bu kalau boleh tanya ibu sudah punya anak toh?” tanyaku padanya. “Iya dek ibu sudah punya anak dia sekarang kelas 3 SMA,” jawab bu Aisyah. “Maaf Bu ngomong-ngomong sekolah dimana memangnya?” tanyaku lagi. “ Oh..... sekolahnya di SMAN 1 BRINGIN,” jawab bu Aisyah. “SMAN 1 BRINGIN bu, berarti dia kakak kelasku dong memang siapa namanya bu?” tanyaku pada bu Aisyah. “Rama dek” jawab bu Aisyah singkat. “Apa… jangan jangan dia Rama itu wah gimana nih,” kataku dalam hati.
Tiba - tiba dari luar terdengar “Assalamualaikum, bu ibu aku pulang”  kata orang itu. Ternyata setelah aku lihat dia benar benar kak Rama yang aku maksud  “Kamu Rin, ada apa kamu kerumah ku?” Tanya kak Rama padaku.” Ehmm . . .” jawabku gugup. Lalu ibu kak Rama menjelaskan semuanya pada kak Rama. Dan kak Rama memahami itu semua. “Wah kamu memang anak baik Rin, sampai bela belain datang kesini,” kata kak Rama padaku. Aku malu dan rasanya gimana gitu jadi nggak karuan campur aduk jadi satu. Dalam hati aku berkata wah kak Rama sekarang akrab dengan ku nggak nyangka seorang kak Rama yang pandai, selalu aktif dalam berbagai kegiatan seperti OSIS jadi dekat sama aku,  memang kebetulan yang nggak disangka-sangka.
Sejak saat itu aku mulai tambah dekat dengannya nggak nyangka sih, mungkin ini imbalan buat aku yang berbuat baik pada orang lain. Dan sejak saat itu aku tambah  yakin pasti Allah berikan balasan pada hambanya yang berbuat baik meski kebaikan itu sangat kecil dan mensyukuri segala nikmat-Nya merupakan cara yang terbaik untuk mengekspresikan rasa terima kasih kita pada Allah. Jadi kesimpulannya ketika kita menolong orang lain sebenarnya itu kita menolong diri kita sendiri, kalau kita suka menolong orang lain pasti orang lain juga akan suka menolong kita. Contohnya seperti aku yang hanya mengembalikan sebuah dompet eh kebetulan membawaku pada apa yang aku inginkan dan itu ngga disangka-sangka tetapi menurutku itu bukan kebetulan melainkan rencana Allah.

Cerpenku



Nasehat Seorang Kakek
Terik matahari siang ini memang begitu panas, kulihat jam menunjukkan tepat diangka satu. Tenggorokanku terasa begitu kering aku merasa sangat haus apalagi perutku ini sudah mulai keroncongan mungkin gara-gara tadi pagi aku belum sempat sarapan karena terburu-buru berangkat sekolah. Maklumlah jarak antara rumah dan sekolahku sangatlah jauh dan itupun aku harus jalan kaki terlebih dahulu  baru kemudian bisa naik angkot. Aku sedang menunggu angkot sendirian, ya seperti biasa tiada kawan yang menemani, semua teman-temanku pada bawa motor seniri-sendiri dan itupun arah rumah kita berbeda kalau toh memang sama pasti aku juga akan diajak ikut pulang bareng. Rasanya aku sudah ngga kuat lagi tenggorokanku begitu sakit, aku butuh minum kemudian ku lihat saku bajuku ternyata cuma ada uang seribu dan itu hanya cukup untuk bayar angkot padahal aku butuh uang untuk beli minuman. Lalu kemudian aku coba mengecek saku celanaku mungkin saja ada sisa uang jajan kemaren, setelah aku merogoh sakuku seperti ada selembar uang kertas didalam saku, aku mulai merasa senang ternyata eh ternyata itu bukan uang melainkan kertas contekanku tadi pagi saat ulangan matematika dan sebuah bungkus permen sisa jajan kemaren. “Aduh.... payah,”  teriakku spontan.  “Gimana bisa minum kalau begini.”  kataku dalam hati.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang kakek tua pakaiannya terlihat agak kumal sepertinya seorang pengemis atau mungkin pemulung, dia berjalan menuju kearahku. “Aduh bagaimana nih malah ada pengemis datang aku kan ngga punya uang, kalau uang ini aku sedekahin bagaimana aku bisa pulang, eh tunggu jangan berprasangka begitu mungkin orang itu bukan pengemis hanya saja penampilannya seperti itu kalau aku berprasangka begini ini namaya aku menghina orang lain,”  kataku dalam hati.  Setelah kakek itu datang menghampiriku dia langsung duduk disampingku akupun terheran mengapa si kakek malah duduk disini apa dia mau nunggu angkot juga pikirku. “Ada apa nak?” tanya si kakek sambil tersenyum padaku.  “Oh tngga apa-apa kek.” jawabku sedikit acuh. “Tetapi kakek lihat kamu tadi seperti sedang memikirkan sesuatu, memang ada apa nak?” tanya si kakek lagi dengan ramah. “Ngga ada apa-apa,” jawabku dengan nada sediikit kesal.  “Astagfirullah......,” ucap si kakek pelan. Kemudian aku merasa sedikit bersalah padahal si kakek bertanya baik-baik padaku tetapi aku malah menyentaknya. “Maaf kek aku ngga bermaksud untuk menyentak kakek,”  kataku sambil melihat si kakek. “ Oh tak apa nak, memang ada apa denganmu nak?”  kata si kakek dengan sangat ramah.  “Begini kek aku sangat haus tetapi aku tidak punya uang untuk membeli minum uangku hanya tersisa seribu itupun hanya cukup untuk bayar angkot.”jawabku pelan. “Oh begitu nak, kalau kamu mau kakek punya sebotol air mineral, ini untuk kamu saja,” ucap si kakek sambil menyodorkannya  padaku. “Ah.. tak usah lah kek, nanti kalau kakek haus bagaimana?” kataku kepada kakek.  “Tapi sepertinya kamu sangat membutuhkannya, kakek sih tak masalah\,” ucap si kakek sambil tersenyum kecil. “Ah..tak usah saja lah kek aku memang haus tapi aku ngga mau merepotkan orang lain, sudahlah tak usah repot-repot,” kataku dengan nada sedikit jengkel.
Setelah aku berkata seperti itu pada si kakek timbul rasa bersalah lagi mengapa aku harus jengkel padanya, kemudian si kakek berusaha untuk mengajakku bicara. “Begini nak ini bukan masalah tentang siapa yang direpot kan atau siapa yang merepotkan, tetapi kalu kita sedang butuh bantuan dari orang lain dan  ada orang lain yang ingin membantu kita janganlah menolak bantuan itu, memang kita mengira bantuan itu berasal dari orang lain tetapi sebenarnya itu bantuan dari Allah untuk kita,”  jelas si kakek padaku. “Maksudnya?” tanyaku penasaran. “Ya bantuan dari Allah, mungkin saja kalau Allah tidak menakdirkan kita bertemu akupun juga tak akan memberimu minuman ini,” jelas si kakek lagi. “Oh...,”  kataku pelan sambil mengangguk. “Sebentar nak,” kata si kakek lagi. “Ada apa lagi kek?” tanya ku. “Sudah minumlah itu dulu, begini tadi kamu juga bicara tidak mau merepotkan orang lain bukan? Padahal tanpa kita sadari kita sudah merepotkan orang lain dalam arti kita juga butuh bantuan dari orang lain contohnya kamu makan nasi, padahal nasi tak akan ada kalu tak ada beras dan beras tak akan ada kalau tidak ada petani yang menanamnya, jadi intinya kita selalu butuh bnatuan orang lain bukan?” jelas si kakek sambil melihatku minum. Akupun hanya bisa mengangguk mendengar  penjelasan si kakek.
Aku yang merasa sangat ingin tahu mencoba meminta penjelasan pada si kakek lagi. “Lalu mengapa kakek malah memberikan minuman ini padaku, padahal kakek nanti juga akan membutuhkannya ketika kakek merasa haus, aku tak mengerti apa artinya ini, “ kataku meminta penjelasan. “Karena sebagai manusia  kita harus saling tolong menolong walaupun kalau kita menolong ada reiko yang akan kita dapat, tetapi yakinlah kalau Allah juga akan memberikan pahala untuk orang orang yang berbuat baik,” jelas si kakek  padaku. “Oh begitu ya kek? kataku. “Ya iyalah, hahaha.......,” ucap si kakek sambil tertawa.  “Seharusnya kamu harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padamu, kita jangan pernah mengeluh dengan semua yang diberikan Allah sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” jelas si kakek lagi. “Eh iya kek kenapa kakek disini?”tanyaku. “Oh kakek kan kuli pasar yang ada di seberang jalan ini nak, kebetulan saja ketika kakek sedang istirahat untuk makan siang melihat kamu yang sepertinya sedang kebingungan, “ kata kakek. “Aduh maaf ya kek aku kira tadi kakek itu pengemis yang mau minta sedekah,” kataku pada si kakek. “Oh tak apa lah nak kakek juga memahaminya mungkin karena penampilan kakek yang seperti ini, maklumlah kakek hanya sebatangkara istri kakek sudah meninggal dan kakek tak punya anak jadi semua serba seadanya yang penting kakek tetap berusaha untuk mempertahankan hidup dengan bekerja semampu kakek yang penting bisa makan tanpa meminta minta kepada orang lain, kalu toh memang di kasih tak masalah tetapi kalu harus mengemis kakek tak mau walaupun kakek sudah tua kalau memang kakek masih mampu bekerja kakek akan bekerja,”  jelas si kakek padaku.
 Setelah mendengar semua penjelasan kakek aku sudah mulai sedikit memahaminya dan timbul rasa semangat dari dalam hati. “Setuju kek, kalau aku sudah dewasa nanti dan aku sudah bekerja aku akan bekerja sungguh-sungguh dan akan selalu bersyukur atas semua yang didapat dan yang paling penting aku tak boleh mengeluh, mulai sekarang aku ingin jadi anak baik dan selalu menuruti nasehat orang tua,” kataku. “Baguuussss.......,” ucap si kakek sambil tersenyum lebar. “Ini kek terima kasih atas minumannya aku cuma butuh sedikit untuk mengobati rasa hausku ini sisanya masih banyak mungkin kakek bisa meminumnya ketika merasa haus nanti,” kakaku pada si kakek. “Kamu memang anak baik nak,” kata si kakek sambil tersenyum kecil. “Ah.....  kakek terlalu berlebihan padaku meurutku kakek seorang yang hebat buatku, terima kasih atas nasehat dan pelajaran yang bisa aku petik hikmahnya untuk hari ini,” kataku pada kakek. Tak lama kemudian angkot yang menuju rumahku datang aku segera naik, dari dalam angkot aku melihat si kakek sambil melambaikan tangan dekat kaca kakek hanya tersenyum kecil padaku. Setelah satu hari berlalu seperti biasanya ketika pulang sekolah aku menunggu angkot di tempat biasa aku berpikir untuk menemui si kakek lagi dan mencarinya di pasar seberang jalan tetapi aku tak menemukannya aku sudah mencoba untuk bertanya kepada orang orang pasar yang biasa berjualan disitu tetapi tak satupun yang mengetahuinya bahkan mengenalnya.